Sabtu, 24 September 2016

Menunjukkan Rasa Cinta Tanah Air Tanpa Muluk

Masih dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, banyak cara untuk merayakannya. Seperti lomba-lomba yang dilaksanakan di lingkungan RT, pawai mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia ataupun dengan cara menunjukkan rasa cinta tanah air.
Untuk menunjukkan rasa cinta tanah air, harus dimulai sejak dini. Tidak perlu muluk untuk menjadi seorang yang bakal berguna bagi nusa bangsa, hanya dengan melakukan hal-hal kecil yang sebenarnya mudah untuk dilakukan dan bisa membuat perubahan besar.
Berikut ini bagaimana menunjukkan rasa cinta tanah air yang mudah dilakukan oleh siapapun.
Mengikuti upacara bendera tiap hari Senin di Sekolah.
Untuk teman-teman yang masih bersekolah, tentu di sekolah selalu diadakan upacara bendera tiap hari Senin. Upacara bendera dilakukan untuk memperingati jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk merebut kemerdekaan bangsa ini. Jadi tidak ada salahnya teman-teman ikuti dengan tertib dan khidmat.
Memakai produk buatan Indonesia
Bangga dan memakai produk asli buatan Indonesia juga harus diterapkan sejak dini. Tak semua produk Indonesia bad quality kok. Banyak barang buatan asli Indonesia yang memiliki kualitas bagus. Selain itu kalian juga bisa membantu membangun perekonomian bangsa, lho!
Belajar dengan sungguh-sungguh
Belajar dengan giat dan sungguh-sungguh juga merupkan wujud cinta tanah air. Dengan belajar kita akan tau banyak hal. Dengan belajar semua yang tidak bisa akan menjadi bisa.
Menggunakan hak suara saat Pemilu
Buat temen-temen yang sudah memiliki hak suara, sebaiknya digunakan jika memiliki kesempatan itu. Karna kita sendiri yang akan menentukan siapa pemimpin yang baik untuk bangsa ini. Daripada hak suara kalian di salah gunakan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
Cinta Budaya Indonesia
Mencintai budaya dengan cara mengetahui serta menghargai banyaknya budaya yang tesebar di penjuru Indonesia. Jangan melulu kita mengetahui budaya asing dibanding dengan budaya kita sendiri. Cinta budaya, cinta Indonesia.
Mudah kan untuk menunjukkan rasa cinta tanah air tanpa muluk. Dimulai dari hal kecil, akan menimbulkan suatu perubahan besar bagi Indonesia kita. (Alfia Nurul Fadilla)

Komentar

Kamis, 15 September 2016

Andai Aku Jurnalis Andal (Jadi Orang Film Asyik, Tapi Asyik-an Jadi Jurnalis...)

Halo teman-teman. Sudah lama tidak membuat tulisan dalam blog. Terakhir aku menulis beberapa bulan lalu, itupun hanya me-repost tugas kuliah ku.

Sekarang aku akan berbagi cerita kenapa aku ingin menjadi seorang wartawan andal. Ya, awalnya inginku bukan menjadi seorang wartawan. Aku ingin berkarya di dunia film, menjadi seorang sutradara yang bisa menghasilkan film-film keren. Berawal dari sejak aku masuk sekolah menengah kejuruan jurusan multimedia, minatku dalam dunia film mulai tersalurkan dengan adanya beberapa materi tentang film juga prakteknya langsung.

Kenapa film? Karna menurutku, lewat film aku bisa menyalurkan suasana hati atau sesuatu yang ingin ku ceritakan lewat cerita dalam film. Proses pembuatannya pun juga yang membuat aku makin menyukai dunia film waktu itu. Berbagai seminar serta lomba film kucoba, terakhir yang paling membanggakan bagiku adalah ketika filmku masuk ke nominasi sepuluh besar peserta short movie festival Insomnia 60 yang diadakan SMAN 60 Jakarta. Itu tingkat nasional lho!

Beberapa film yang pernah aku garap ialah Kado Terindah Untuk Kakak, Janji, Gara-Gara Si Dumay dan beberapa film lainnya.  Kebanyakan film yang kubuat merupakan murni hasil karyaku dan beberapa teman di sekolah. Selain terlibat dalam pembuatan film, aku pernah beberapa kali menjadi pemain dalam filmya juga, lho!

Sempat terfikirkan ketika lulus sekolah nanti aku ingin melanjutkan kuliah ke jurusan broadcasting agar aku bisa mendalami dunia film. Tapi orang tua menolak karena ketiadaan biaya. Aku bisa melanjutkan kuliah asal sudah punya penghasilan sendiri. Kecewa sudah pasti, tetapi jika tak mampu aku pun tak paksakan.

Sampai akhirnya aku mengetahui info beasiswa dari teman yang berkuliah di Politeknik Negeri Jakarta. Ia bilang aku bisa kuliah gratis tanpa biaya. Semangatku menggebu lagi saat itu. Aku bertekad untuk bisa mendapatkan beasiswa itu. Sampai akhirnya pihak sekolah mengumumkan beasiswa di PNJ, dan hanya memilih lima siswa yang akan mendaftar dari satu sekolah.

Setelah di seleksi, aku pun lolos dan bisa mendaftar. Sampai akhirnya lolos beberapa tahap dan….. Ya! Sekarang aku berkuliah disini, di Politeknik Negeri Jakarta jurusan jurnalistik yang dulu ku kira adalah masih bagian dari kampus UI.

Waktu memilih jurusan jurnalistik, aku juga sempat kebingungan. Apa aku bisa ada di jurusan ini? sementara minat ku bukan disini. Tapi semua kujalani karena fikirku jadi jurnalis juga tidak jauh-jauh lah dengan menjadi seorang seniman film, sama-sama bekerja di lapangan dan bertemu dengan orang banyak juga. Karena memang itu yang aku sukai.

Kebetulan aku juga suka menonton berita dan bahas obrolan politik dengan ayah atau paman dirumah. Aku juga sering menirukan gaya seorang news anchor ketika ia membacakan berita. Ya sambil berharap kalau diriku yang ada di layar kaca. Karena berita dan jurnalis menurutku hubungannya sangat erat dengan politik. Walaupun tak semua masalah aku mengerti, tapi selama ini aku mengikuti isu-isu yang sedang hangat.

Setelah masuk ke jurusan jurnalistik lalu mendapat beberapa mata kuliah tentang jurnalistik, minat ku akan film makin terlupakan. Mindset ku langsung berubah menjadi jurnalis lebih keren deh kayaknya, hehehe… dan menjadi jurnalis di tv lah nanti yang akan aku pilih. Kenapa jurnalis tv? Karena yang aku tahu dan bayangkan jadi jurnalis tv itu lumayan mudah. Hanya dengan melihat kondisi sekitar, lalu membacakan dengan lantang di depan kamera apa saja yang terjadi dan. Melaporkan suatu kejadian ke khalayak dalam bentuk reportase, menjadi jurnalis yang meliput pada program tv tertentu, dan yang goalnya lagi bisa jadi seorang news anchor. Waaaaaa……

Seperti yang dikatakan Najwa Shihab “karena kalo tv itu real, what you see is what you get. Jadi apa yang orang liat ya begitu adanya, jadi ketika kita terlihat tidak siap ya orang juga akan melihatnya”.
Menjadi jurnalis sepakbola juga menjadi salah satu impianku. Pernah bermimpi jika aku menjadi, aku akan menjadi jurnalis sepakbola yang ditugaskan di Inggris. Bisa meliput kegiata dan pertandingan liga terbesar di dunia yaitu Liga Primer Inggris. Sambil bisa lebih sering melihat tim favoritku berlaga yaitu Arsenal.

Jadi untuk sekarang yang aku lakukan adalah banyak-banyak mendalami profesi ini, banyak belajar dari yang berpengalaman, tak lupa banyak menggali dari buku. Menjadi seorang jurnalis. Semangat!!!