Kamis, 24 November 2016

Cerdas Bersosial Media

Media sosial sekarang ini banyak macamnya, seperti instagram, path, facebook, twitter, dan lain sebagainya. Sehingga masyarakat sekarang ini makin mudah untuk memperoleh informasi dari berbagai sumber. Tingkat kepemilikan gadget warga yang meningkat pada zaman sekarang juga mempengaruhi penggunaan sosial media.
Dahulu, sosial media yang sering digunakan hanyalah email itu pun digunakan bagi kalangan pekerja saja, sekarang siapa pun bisa mengakses informasi yang disediakan oleh sosial media.
Waktu bersosial media juga hampir mengalahkan waktu kerja dalam sehari. Setiap detik masyarakat memperbarui informasi melalui social media.
Menurut Rendy (23), ia membuka social medianya bisa lebih dari dua puluh kali sehari. Mengetahui berita terkini dan untuk lebih mengetahui issue yang sedang hangat adalah alasannya menggunakan sosial media.
Saking mudahnya masyarakat mengakses sosial media, informasi yang diterima juga beragam dan kadang mengandung unsur provokasi yang berusaha menjatuhkan kalangan tertentu. Ini bisa mengakibatkan perbedaan pendapat dalam masyarakat sehingga dapat memecah belah suatu kelompok tertentu. Social media seharusnya digunakan untuk media dakwah dan menyebarkan informasi yang bermanfaat bukan malah sebaliknya.
Seperti yang terjadi baru-baru ini, kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubenur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama yang terjadi karena video yang diunggah dalam social media. Banyaknya perbedaan pendapat memecah belah menjadi kubu yang membela dan menyalahkan, yang puncaknya terjadi dalam aksi damai pada 4 November lalu.
Oleh karenanya, masyarakat dituntut untuk bisa lebh cerdas dalam bersosial media. Menyaring informasi yang diterima sangatlah diperlukan, jangan mudah emosi ketika membaca suatu informasi yang tidak sesuai normanya tanpa mengetahui sumbernya yang jelas.
Untuk pengguna sosial media juga diharapkan untuk tidak menulis kata-kata yang mengandung unsur SARA atau menjatuhkan suatu kubu tertentu yang bisa menimbulkan reaksi negatif orang banyak. Mari ciptakan suasana Indonesia yang aman, nyaman, dan damai tanpa adanya perpecahbelahan yang terjadi pada masyarakatnya sendiri. (Alfia Fadilla)

Jumat, 28 Oktober 2016

Waspada Kekerasan seksual Terhadap Anak

Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, atau pengabaian terhadap anak. Sekarang ini makin banyak terungkapnya kasus kekerasan terhadap anak, yang paling tinggi adalah kekerasan seksual pada anak.

Kekerasan seksual terhadap anak kebanyakan dilakukan oleh orang terdekat. Bisa karena penyakit yang diderita si pelaku atau memang sengaja melakukan. Yang lebih memperihatinkan, ada beberapa kasus yang dilakukan oleh oknum pengajar. Mereka yang seharusnya mengayomi serta menjaga si anak malah sebaliknya, melakukan tindakan yang tak pantas.

Salah satu kasusnya yang terjadi di SD Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Dilakukan oleh EA (35), seorang guru Bahasa Inggris. Berawal dari seorang siswa yang melapor ke orang tua bahwa ia tidak mau lagi mengikuti pelajaran Bahasa Inggris karena sering dipeluk dan dicium pelaku.

Seperti yang dilansir liputan6.com, Januari-Mei 2016 sudah terjadi 298 kasus kekerasan seksual terhadap anak. Abdul Haris Semendawai ketua LPSK dalam wawancara dengan kompas.com, menyatakan bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak banyak yang terbengkalai atau proses hukumnya tidak berjalan. Jadi sebenarnya masih banyak kasus yang belum terungkap dan terselesaikan.

Mencegah Kekerasan Seksual Terhadap Anak

1.  Perlakukanlah anak dengan sabar, penuh keramahan, sopan santun, agar si anak akan dengan mudah menceritakan jika ada sesuatu yang terjadi pada dirinya.
2.     Berikan pengampunan jika si anak melakukan salah dan jangan segan memberikan pujian ketika ia berbuat baik.
3. Berikan pengertian dan pemahaman mengenai perbuatan yang biasa dilakukan pelaku kekerasan agar tidak terjadi kekerasan.
4.  Beri pengertian agar tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh bagian tubuh tertentu.

Bila Sudah Terjadi Kekerasan Terhadap Anak

1.     Bila kekerasan sudah terjadi dan anak menceritakan yang dialaminya, sikap tenang diperlukan untuk tidak memarahi atau menyalahkan.
2.     Suasana nyaman dan pengertian akan membuat anak dapat berbicara.
3.     Yakini dengan kasih agar si anak juga tetap tenang dan anda akan menolong agar tidak terjadi kekerasan lagi.
4.     Laporkan kepada pihak berwajib.

Senin, 03 Oktober 2016

Tambal Ban Keliling Pak Hamid

Pak Hamid, lelaki tua yang hampir setiap hari kutemui saat ku pulang kuliah. Selalu melempar senyuman ramah dan memberi lelucon kepada teman-teman yang sedang menunggu bis di halte. Awalnya kufikir ia adalah seorang tukang ojek yang biasa mangkal di sekitar kampus UI namun sejak aku mendapat tugas menulis reportase, dari dosen mata kuliah penulisan reportase waktu itu aku jadi tahu siapa beliau sebenarnya.

Awalnya ketika diberi tugas itu aku hampir kehabisan ide akan mengamati dan mewawancara siapa fikirku. Sampai akhirnya aku melihat Pak Hamid seperti biasa sedang duduk dihalte depan kampus. Sedang mengipas-ngipaskan topi yang ia pakai ke badannya. Sambil kumenunggu bis kampus yang akan mengantarku ke stasiun, aku  mengamati Pak Hamid dan berencana akan mewawancarainya esok hari. Ku perhatikan ia dengan jelas, ternyata disampingnya terdapat sepeda yang bergantungkan ember dan beberapa ban kempes bekas.

Sampai keesokan harinya, aku menghampiri Pak Hamid yang sedang duduk santai di halte. “Misi Pak..boleh nanya-nanya sedikit ga?” tanyaku sambil tersenyum. Dengan spontan ia menjawab “Iya silakan neng, banyak juga gapapa.” Sungguh ramah Pak Hamid, aku jadi makin pede untuk bertanya segala hal kepadanya.

Pak Hamid biasa berkeliling di sekitar kampus dengan mengayuh sepeda tuanya sambil membawa beberapa peralatan yang digunakan untuk menambal ban. Sudah sejak tahun 2007 Pak Hamid memulai usahanya ini. Sambil tertegun kumendengar jawaban-jawabannya atas petanyaanku.
Sebelum berkeliling di sekitar Kampus UI, ia pernah punya toko tambal ban di daerah Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Tapi pada tahun 1999 Pak Hamid kehilangan mesin kompresor miliknya yang dicuri sehingga usahanya tidak diteruskan lagi.

Setiap pagi Pak Hamid berjalan pukul 07.00 WIB dari rumahnya di Kampung Lio, Depok. Ia megaku tidak pernah mematok harga kepada para pelanggannya. Menurutnya, bayaran seikhlasnya sudah lebih dari cukup. Sambil menarik napas panjang aku kaget akan jawabannya itu, apa benar seikhlasnya? Sungguh mulia Pak Hamid.

Tak jarang ada pelanggan yang tidak mempunyai uang untuk membayar, Pak Hamid ikhlas dan hanya diberikan ucapan terimakasih. Pak Hamid bilang, menolong orang yang sedang kesusahan adalah suatu kesenangan untuknya. Aku hampir lupa sudah kali ke berapa aku kagum akan jawaban dan semangat Pak Hamid.

Pak Hamid juga menyebar nomor telepon miliknya kepada satpam di beberapa fakultas yang ada di Kampus UI juga pada para mahasiswa yang sudah biasa memakai jasanya, sehingga jika ada yang ingin memerlukan jasanya secara mendadak ia bisa langsung menuju lokasi yang diinginkan pelanggannya.

Pak Hamid tinggal bersama anaknya sejak ditinggal mendiang istrinya tujuh tahun lalu. Keadaan ekonomi anaknya pun yang kurang cukup, membuat ia harus tetap bekerja. Ia sama sekali tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Terkadang Pak Hamid lah yang memberikan uang jajan kepada dua orang cucunya.

 “Saya biasa di panggil mahasiswa biasanya mah ada aja di Fisip, Mipa, Poltek, ya dimana aja pas saya di panggil… kadang-kadang disuruh ke Beji belakang pas ada tukang ojek yang bannya bocor. Nomor telepon saya 021-99451779.” Itu dia jawaban Pak Hamid ketika ku tanya tentang bagaimana jika ingin memesan jasanya,  sambil semangat memberikan nomor teleponnya kepadaku.

Penghasilan perhari yang ia dapatkan hanya sekitar Rp. 50.000,- saja. Itupun tidak setiap hari ia dapatkan. Tak jarang Pak Hamid pulang dengan tangan kosong, ketika sama sekali tidak ada yang memakai jasanya. Fikirku, uang segitu terkadang kuhabiskan dalam waktu singkat dan tidak jelas digunakan untuk apa. Sungguh Pak Hamid menyadarkanku untuk banyak bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang.

Yang paling berkesan dan hampir membuatku mengeluarkan air mata dari jawabannya pada wawancara kali itu adalah ketika aku menanyakan apa harapannya untuk kedepan “Saya mah yang penting sehat aja.” Tutur Pak Hamid dengan senyum lebarnya. (Alfia Nurul Fadilla) 10/3/2016

Sabtu, 24 September 2016

Menunjukkan Rasa Cinta Tanah Air Tanpa Muluk

Masih dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71, banyak cara untuk merayakannya. Seperti lomba-lomba yang dilaksanakan di lingkungan RT, pawai mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia ataupun dengan cara menunjukkan rasa cinta tanah air.
Untuk menunjukkan rasa cinta tanah air, harus dimulai sejak dini. Tidak perlu muluk untuk menjadi seorang yang bakal berguna bagi nusa bangsa, hanya dengan melakukan hal-hal kecil yang sebenarnya mudah untuk dilakukan dan bisa membuat perubahan besar.
Berikut ini bagaimana menunjukkan rasa cinta tanah air yang mudah dilakukan oleh siapapun.
Mengikuti upacara bendera tiap hari Senin di Sekolah.
Untuk teman-teman yang masih bersekolah, tentu di sekolah selalu diadakan upacara bendera tiap hari Senin. Upacara bendera dilakukan untuk memperingati jasa para pahlawan yang telah berjuang untuk merebut kemerdekaan bangsa ini. Jadi tidak ada salahnya teman-teman ikuti dengan tertib dan khidmat.
Memakai produk buatan Indonesia
Bangga dan memakai produk asli buatan Indonesia juga harus diterapkan sejak dini. Tak semua produk Indonesia bad quality kok. Banyak barang buatan asli Indonesia yang memiliki kualitas bagus. Selain itu kalian juga bisa membantu membangun perekonomian bangsa, lho!
Belajar dengan sungguh-sungguh
Belajar dengan giat dan sungguh-sungguh juga merupkan wujud cinta tanah air. Dengan belajar kita akan tau banyak hal. Dengan belajar semua yang tidak bisa akan menjadi bisa.
Menggunakan hak suara saat Pemilu
Buat temen-temen yang sudah memiliki hak suara, sebaiknya digunakan jika memiliki kesempatan itu. Karna kita sendiri yang akan menentukan siapa pemimpin yang baik untuk bangsa ini. Daripada hak suara kalian di salah gunakan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
Cinta Budaya Indonesia
Mencintai budaya dengan cara mengetahui serta menghargai banyaknya budaya yang tesebar di penjuru Indonesia. Jangan melulu kita mengetahui budaya asing dibanding dengan budaya kita sendiri. Cinta budaya, cinta Indonesia.
Mudah kan untuk menunjukkan rasa cinta tanah air tanpa muluk. Dimulai dari hal kecil, akan menimbulkan suatu perubahan besar bagi Indonesia kita. (Alfia Nurul Fadilla)

Komentar

Kamis, 15 September 2016

Andai Aku Jurnalis Andal (Jadi Orang Film Asyik, Tapi Asyik-an Jadi Jurnalis...)

Halo teman-teman. Sudah lama tidak membuat tulisan dalam blog. Terakhir aku menulis beberapa bulan lalu, itupun hanya me-repost tugas kuliah ku.

Sekarang aku akan berbagi cerita kenapa aku ingin menjadi seorang wartawan andal. Ya, awalnya inginku bukan menjadi seorang wartawan. Aku ingin berkarya di dunia film, menjadi seorang sutradara yang bisa menghasilkan film-film keren. Berawal dari sejak aku masuk sekolah menengah kejuruan jurusan multimedia, minatku dalam dunia film mulai tersalurkan dengan adanya beberapa materi tentang film juga prakteknya langsung.

Kenapa film? Karna menurutku, lewat film aku bisa menyalurkan suasana hati atau sesuatu yang ingin ku ceritakan lewat cerita dalam film. Proses pembuatannya pun juga yang membuat aku makin menyukai dunia film waktu itu. Berbagai seminar serta lomba film kucoba, terakhir yang paling membanggakan bagiku adalah ketika filmku masuk ke nominasi sepuluh besar peserta short movie festival Insomnia 60 yang diadakan SMAN 60 Jakarta. Itu tingkat nasional lho!

Beberapa film yang pernah aku garap ialah Kado Terindah Untuk Kakak, Janji, Gara-Gara Si Dumay dan beberapa film lainnya.  Kebanyakan film yang kubuat merupakan murni hasil karyaku dan beberapa teman di sekolah. Selain terlibat dalam pembuatan film, aku pernah beberapa kali menjadi pemain dalam filmya juga, lho!

Sempat terfikirkan ketika lulus sekolah nanti aku ingin melanjutkan kuliah ke jurusan broadcasting agar aku bisa mendalami dunia film. Tapi orang tua menolak karena ketiadaan biaya. Aku bisa melanjutkan kuliah asal sudah punya penghasilan sendiri. Kecewa sudah pasti, tetapi jika tak mampu aku pun tak paksakan.

Sampai akhirnya aku mengetahui info beasiswa dari teman yang berkuliah di Politeknik Negeri Jakarta. Ia bilang aku bisa kuliah gratis tanpa biaya. Semangatku menggebu lagi saat itu. Aku bertekad untuk bisa mendapatkan beasiswa itu. Sampai akhirnya pihak sekolah mengumumkan beasiswa di PNJ, dan hanya memilih lima siswa yang akan mendaftar dari satu sekolah.

Setelah di seleksi, aku pun lolos dan bisa mendaftar. Sampai akhirnya lolos beberapa tahap dan….. Ya! Sekarang aku berkuliah disini, di Politeknik Negeri Jakarta jurusan jurnalistik yang dulu ku kira adalah masih bagian dari kampus UI.

Waktu memilih jurusan jurnalistik, aku juga sempat kebingungan. Apa aku bisa ada di jurusan ini? sementara minat ku bukan disini. Tapi semua kujalani karena fikirku jadi jurnalis juga tidak jauh-jauh lah dengan menjadi seorang seniman film, sama-sama bekerja di lapangan dan bertemu dengan orang banyak juga. Karena memang itu yang aku sukai.

Kebetulan aku juga suka menonton berita dan bahas obrolan politik dengan ayah atau paman dirumah. Aku juga sering menirukan gaya seorang news anchor ketika ia membacakan berita. Ya sambil berharap kalau diriku yang ada di layar kaca. Karena berita dan jurnalis menurutku hubungannya sangat erat dengan politik. Walaupun tak semua masalah aku mengerti, tapi selama ini aku mengikuti isu-isu yang sedang hangat.

Setelah masuk ke jurusan jurnalistik lalu mendapat beberapa mata kuliah tentang jurnalistik, minat ku akan film makin terlupakan. Mindset ku langsung berubah menjadi jurnalis lebih keren deh kayaknya, hehehe… dan menjadi jurnalis di tv lah nanti yang akan aku pilih. Kenapa jurnalis tv? Karena yang aku tahu dan bayangkan jadi jurnalis tv itu lumayan mudah. Hanya dengan melihat kondisi sekitar, lalu membacakan dengan lantang di depan kamera apa saja yang terjadi dan. Melaporkan suatu kejadian ke khalayak dalam bentuk reportase, menjadi jurnalis yang meliput pada program tv tertentu, dan yang goalnya lagi bisa jadi seorang news anchor. Waaaaaa……

Seperti yang dikatakan Najwa Shihab “karena kalo tv itu real, what you see is what you get. Jadi apa yang orang liat ya begitu adanya, jadi ketika kita terlihat tidak siap ya orang juga akan melihatnya”.
Menjadi jurnalis sepakbola juga menjadi salah satu impianku. Pernah bermimpi jika aku menjadi, aku akan menjadi jurnalis sepakbola yang ditugaskan di Inggris. Bisa meliput kegiata dan pertandingan liga terbesar di dunia yaitu Liga Primer Inggris. Sambil bisa lebih sering melihat tim favoritku berlaga yaitu Arsenal.

Jadi untuk sekarang yang aku lakukan adalah banyak-banyak mendalami profesi ini, banyak belajar dari yang berpengalaman, tak lupa banyak menggali dari buku. Menjadi seorang jurnalis. Semangat!!!