Pak Hamid, lelaki tua
yang hampir setiap hari kutemui saat ku pulang kuliah. Selalu melempar senyuman
ramah dan memberi lelucon kepada teman-teman yang sedang menunggu bis di halte.
Awalnya kufikir ia adalah seorang tukang ojek yang biasa mangkal di sekitar
kampus UI namun sejak aku mendapat tugas menulis reportase, dari dosen mata
kuliah penulisan reportase waktu itu aku jadi tahu siapa beliau sebenarnya.
Awalnya ketika diberi
tugas itu aku hampir kehabisan ide akan mengamati dan mewawancara siapa
fikirku. Sampai akhirnya aku melihat Pak Hamid seperti biasa sedang duduk
dihalte depan kampus. Sedang mengipas-ngipaskan
topi yang ia pakai ke badannya. Sambil kumenunggu bis kampus yang akan
mengantarku ke stasiun, aku mengamati
Pak Hamid dan berencana akan mewawancarainya esok hari. Ku perhatikan ia dengan
jelas, ternyata disampingnya terdapat sepeda yang bergantungkan ember dan
beberapa ban kempes bekas.
Sampai keesokan
harinya, aku menghampiri Pak Hamid yang sedang duduk santai di halte. “Misi
Pak..boleh nanya-nanya sedikit ga?” tanyaku sambil tersenyum. Dengan spontan ia
menjawab “Iya silakan neng, banyak juga gapapa.” Sungguh ramah Pak Hamid, aku
jadi makin pede untuk bertanya segala
hal kepadanya.
Pak Hamid biasa
berkeliling di sekitar kampus dengan mengayuh sepeda tuanya sambil membawa
beberapa peralatan yang digunakan untuk menambal ban. Sudah sejak tahun 2007 Pak
Hamid memulai usahanya ini. Sambil tertegun kumendengar jawaban-jawabannya atas
petanyaanku.
Sebelum berkeliling di
sekitar Kampus UI, ia pernah punya toko tambal ban di daerah Gunung Sahari,
Jakarta Pusat. Tapi pada tahun 1999 Pak Hamid kehilangan mesin kompresor
miliknya yang dicuri sehingga usahanya tidak diteruskan lagi.
Setiap pagi Pak Hamid
berjalan pukul 07.00 WIB dari rumahnya di Kampung Lio, Depok. Ia megaku tidak
pernah mematok harga kepada para pelanggannya. Menurutnya, bayaran seikhlasnya
sudah lebih dari cukup. Sambil menarik napas panjang aku kaget akan jawabannya
itu, apa benar seikhlasnya? Sungguh mulia Pak Hamid.
Tak jarang ada
pelanggan yang tidak mempunyai uang untuk membayar, Pak Hamid ikhlas dan hanya
diberikan ucapan terimakasih. Pak Hamid bilang, menolong orang yang sedang
kesusahan adalah suatu kesenangan untuknya. Aku hampir lupa sudah kali ke
berapa aku kagum akan jawaban dan semangat Pak Hamid.
Pak Hamid juga menyebar
nomor telepon miliknya kepada satpam di beberapa fakultas yang ada di Kampus UI
juga pada para mahasiswa yang sudah biasa memakai jasanya, sehingga jika ada
yang ingin memerlukan jasanya secara mendadak ia bisa langsung menuju lokasi
yang diinginkan pelanggannya.
Pak Hamid tinggal
bersama anaknya sejak ditinggal mendiang istrinya tujuh tahun lalu. Keadaan
ekonomi anaknya pun yang kurang cukup, membuat ia harus tetap bekerja. Ia sama
sekali tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Terkadang Pak Hamid lah yang
memberikan uang jajan kepada dua orang cucunya.
“Saya
biasa di panggil mahasiswa biasanya mah ada aja di Fisip, Mipa, Poltek, ya
dimana aja pas saya di panggil… kadang-kadang disuruh ke Beji belakang pas ada
tukang ojek yang bannya bocor. Nomor telepon saya 021-99451779.” Itu dia
jawaban Pak Hamid ketika ku tanya tentang bagaimana jika ingin memesan jasanya,
sambil semangat memberikan nomor
teleponnya kepadaku.
Penghasilan perhari
yang ia dapatkan hanya sekitar Rp. 50.000,- saja. Itupun tidak setiap hari ia
dapatkan. Tak jarang Pak Hamid pulang dengan tangan kosong, ketika sama sekali
tidak ada yang memakai jasanya. Fikirku, uang segitu terkadang kuhabiskan dalam
waktu singkat dan tidak jelas digunakan untuk apa. Sungguh Pak Hamid
menyadarkanku untuk banyak bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar