Senin, 03 Oktober 2016

Tambal Ban Keliling Pak Hamid

Pak Hamid, lelaki tua yang hampir setiap hari kutemui saat ku pulang kuliah. Selalu melempar senyuman ramah dan memberi lelucon kepada teman-teman yang sedang menunggu bis di halte. Awalnya kufikir ia adalah seorang tukang ojek yang biasa mangkal di sekitar kampus UI namun sejak aku mendapat tugas menulis reportase, dari dosen mata kuliah penulisan reportase waktu itu aku jadi tahu siapa beliau sebenarnya.

Awalnya ketika diberi tugas itu aku hampir kehabisan ide akan mengamati dan mewawancara siapa fikirku. Sampai akhirnya aku melihat Pak Hamid seperti biasa sedang duduk dihalte depan kampus. Sedang mengipas-ngipaskan topi yang ia pakai ke badannya. Sambil kumenunggu bis kampus yang akan mengantarku ke stasiun, aku  mengamati Pak Hamid dan berencana akan mewawancarainya esok hari. Ku perhatikan ia dengan jelas, ternyata disampingnya terdapat sepeda yang bergantungkan ember dan beberapa ban kempes bekas.

Sampai keesokan harinya, aku menghampiri Pak Hamid yang sedang duduk santai di halte. “Misi Pak..boleh nanya-nanya sedikit ga?” tanyaku sambil tersenyum. Dengan spontan ia menjawab “Iya silakan neng, banyak juga gapapa.” Sungguh ramah Pak Hamid, aku jadi makin pede untuk bertanya segala hal kepadanya.

Pak Hamid biasa berkeliling di sekitar kampus dengan mengayuh sepeda tuanya sambil membawa beberapa peralatan yang digunakan untuk menambal ban. Sudah sejak tahun 2007 Pak Hamid memulai usahanya ini. Sambil tertegun kumendengar jawaban-jawabannya atas petanyaanku.
Sebelum berkeliling di sekitar Kampus UI, ia pernah punya toko tambal ban di daerah Gunung Sahari, Jakarta Pusat. Tapi pada tahun 1999 Pak Hamid kehilangan mesin kompresor miliknya yang dicuri sehingga usahanya tidak diteruskan lagi.

Setiap pagi Pak Hamid berjalan pukul 07.00 WIB dari rumahnya di Kampung Lio, Depok. Ia megaku tidak pernah mematok harga kepada para pelanggannya. Menurutnya, bayaran seikhlasnya sudah lebih dari cukup. Sambil menarik napas panjang aku kaget akan jawabannya itu, apa benar seikhlasnya? Sungguh mulia Pak Hamid.

Tak jarang ada pelanggan yang tidak mempunyai uang untuk membayar, Pak Hamid ikhlas dan hanya diberikan ucapan terimakasih. Pak Hamid bilang, menolong orang yang sedang kesusahan adalah suatu kesenangan untuknya. Aku hampir lupa sudah kali ke berapa aku kagum akan jawaban dan semangat Pak Hamid.

Pak Hamid juga menyebar nomor telepon miliknya kepada satpam di beberapa fakultas yang ada di Kampus UI juga pada para mahasiswa yang sudah biasa memakai jasanya, sehingga jika ada yang ingin memerlukan jasanya secara mendadak ia bisa langsung menuju lokasi yang diinginkan pelanggannya.

Pak Hamid tinggal bersama anaknya sejak ditinggal mendiang istrinya tujuh tahun lalu. Keadaan ekonomi anaknya pun yang kurang cukup, membuat ia harus tetap bekerja. Ia sama sekali tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Terkadang Pak Hamid lah yang memberikan uang jajan kepada dua orang cucunya.

 “Saya biasa di panggil mahasiswa biasanya mah ada aja di Fisip, Mipa, Poltek, ya dimana aja pas saya di panggil… kadang-kadang disuruh ke Beji belakang pas ada tukang ojek yang bannya bocor. Nomor telepon saya 021-99451779.” Itu dia jawaban Pak Hamid ketika ku tanya tentang bagaimana jika ingin memesan jasanya,  sambil semangat memberikan nomor teleponnya kepadaku.

Penghasilan perhari yang ia dapatkan hanya sekitar Rp. 50.000,- saja. Itupun tidak setiap hari ia dapatkan. Tak jarang Pak Hamid pulang dengan tangan kosong, ketika sama sekali tidak ada yang memakai jasanya. Fikirku, uang segitu terkadang kuhabiskan dalam waktu singkat dan tidak jelas digunakan untuk apa. Sungguh Pak Hamid menyadarkanku untuk banyak bersyukur dengan apa yang aku punya sekarang.

Yang paling berkesan dan hampir membuatku mengeluarkan air mata dari jawabannya pada wawancara kali itu adalah ketika aku menanyakan apa harapannya untuk kedepan “Saya mah yang penting sehat aja.” Tutur Pak Hamid dengan senyum lebarnya. (Alfia Nurul Fadilla) 10/3/2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar